Kerusakan Hutan Sebabkan Banjir Bandang di Kabupaten Lebak

SINARBANTEN.COM, Lebak – Sebenarnya salah satu fungsi hutan selain untuk penghijauan adalah agar dapat menyerap dan menahan air tanah sehingga apabila hutan rusak maka akan menyebabkan bencana alam  banjir bandang yang menerjang empat kecamatan di daerah kabupaten Lebak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi menduga penyebab banjir bandang itu karena kerusakan hutan.

“Kabupaten Lebak merupakan daerah hulu di Provinsi Banten, sehingga perlu mendapat perhatian untuk pelestarian hutan dan alam agar tidak menimbulkan bencana banjir, “ungkap Kaprawi, Senin (27/5/2019).

Kaprawi menjelaskan bahwa selama ini, kondisi hutan di daerah hulu sungai di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) mengalami kerusakan akibat adanya aktivitas penebangan pohon maupun pertambangan.

Kerusakan kawasan hulu itu,apabila hujan deras dipastikan air hujan tidak terserap ke dalam tanah, sehingga menggelontor bah air ke sejumlah sungai.

Karena itu, kawasan hutan yang menjadikan hulu air perlu dilakukan penghijauan dengan melaksanakan gerakan penghijauan. Namun, saat itu kewenangan untuk melaksanakan gerakan penghijauan melalui Dinas Kehutanan Provinsi Banten.

“Kami berharap kawasan hutan di daerah hulu sungai dapat dilakukan gerakan penghijauan dengan menanam aneka tanaman guna pelestarian alam,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, apabila kawasan hutan kondisinya hijau dan lestari maka jika hujan deras dipastikan airnya terserap ke dalam tanah dan tidak menggelontorkan bah ke sejumlah sungai.

Banjir bandang yang terjadi luapan air Sungai Cilaki dan Cibeurih akibat kerusakan hutan di TNGHS. Sebab, kawasan TNGHS merupakan daerah konservasi yang harus hijau dan lestari.

“Kami yakin banjir bandang itu akibat hutan gundul di kawasan TNGHS sebagai daerah hulu sungai,” katanya.

Ia mengatakan, banjir bandang yang menerjang empat kecamatan itu ditetapkan status tanggap bencana 14 hari terhitung 22 Mei hingga 14 hari ke depan.
Banjir bandang itu menyebabkan 56 rumah rusak serta hanyut dan sejumlah jembatan putus.

Namun, jumlah kerugian material masih dalam identifikasi di lapangan dengan menghitung berapa banyak dampak kerusakan infrastruktur, fasilitas sosial dan fasilitas umum. Beruntung, bencana banjir bandang tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. *[ HH ] ??