KEMENTERIAN ESDM: LPG Akan Digantikan Dengan Jargas

SINARBANTEN.COM, Jakarta – Untuk mengurangi ketergantungan impor LPG, maka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dapat digantikan berkat proyek jaringan gas (jargas) rumah tangga.

Menteri ESDM RI, Arifin Tasrif mengungkapkan bahwa kegiatan impor LPG dipastikan dapat menurun akibat proyek jaringan gas (jargas) rumah tangga. Ia pun menegaskan bahwa proyek jargas dapat menggantikan peran LPG.

Sebagai langkah pendukung, kini Kementerian ESDM tengah mendorong pembangunan infrastruktur jargas untuk dalam negeri, baik untuk pemanfaatan rumah tangga maupun industri.

“Jargas itu bisa gantiin impor LPG. Kalau enggak, kan, makanya devisa kita habis semua. Sedangkan, kan, kita produksi gasnya akan banyak. Kita juga sedang berupaya, kan, membangun lagi infrastruktur gas supaya memang bisa dimanfaatkan. Pak Presiden, kan, bilang ini jalur utamanya, cabangnya di mana, sama gas juga gitu. Nanti juga bisa jadi jargas itu,” jelas Arifin di Musrenbangnas, JCC Jakarta, dikutip kamis (30/5/2024).

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan bahwa gas bumi adalah salah satu sumber energi andalan di era transisi energi, khususnya untuk bisa mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 mendatang.

Oleh karena itu, infrastruktur terintegrasi dibutuhkan untuk bisa menyalurkan gas dari area sumber gas hingga ke area penerimanya di seluruh Indonesia.

“Gas pun akan kita sambungkan, Alhamdulilah memang secara waktu ini pas kita sekarang banyak menemukan gas yang baru, ladang gas yang baru. Jadi, gas secara emisi juga jauh lebih baik dibandingkan batu bara,” ungkap Dadan dalam acara Rembuk Nasional Transisi Energi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Dadan mengatakan, infrastruktur pipa gas sepanjang Sumatra dan integrasi Sumatra-Jawa menjadi kunci penyaluran gas domestik. Hal itu dilakukan untuk menyalurkan potensi gas bumi dari Wilayah Kerja Agung dan Andaman, Aceh sehingga gas dari ujung Sumatra tersebut bisa dimanfaatkan di Jawa dan daerah lain di Sumatra.

Dadan menjelaskan, manfaat pembangunan infrastruktur jaringan gas adalah untuk bisa mendukung harga gas lebih terjangkau dengan biaya angkut atau Toll Fee lebih murah.

“Untuk memenuhi kebutuhan gas untuk industri, pembangkit listrik, komersil, dan rumah tangga,” kata Dadan.

Dalam paparannya, Dadan menyebut bahwa saat ini sudah terbangun infrastruktur jaringan pipa gas Cisem (Cirebon-Semarang) tahap 1 dengan investasi Rp1,13 triliun. Saat ini jaringan Cisem tahap 2 tahun 2024 ini membutuhkan investasi Rp1,33 triliun dan untuk tahun 2025 membutuhkan investasi Rp2,01 triliun.

Selain itu, ia membeberkan bahwa program jargas untuk rumah tangga yang berasal dari Cisem dan Dusem (Dumai-Sei Mangkei) bisa mengurangi subsidi LPG 3 kg hingga Rp0,63 triliun per tahun.

“Dan hemat devisa impor LPG Rp1,08 triliun per tahun. Penghematan biaya masak Rp0,16 triliun per tahun,” tandasnya. *[ Redaksi SB ]🙏🙏