Ramuan Tradisional Banten Butuh Sentuhan Teknologi

SINARBANTEN.COM, Serang – Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Al Muktabar, saat membuka Advokasi Kesehatan Tradisional di Aula Bappeda Banten mengatakan, di Banten banyak terdapat ramuan obat tradisional, tetapi masih dikelola secara tradisional dan belum terkena sentuhan teknologi, pengemasan dan pengelolaan yang baik.

“Pelayanan kesehatan tradisional merupakan bentuk pelayanan yang telah dimanfaatkan sejak dahulu sebelum berkembangnya pelayanan kesehatan konvensional. Namun penyelenggaraan dan pengembangan pelayanan kesehatan tradisional perlu didorong melalui pengkajian, penelitian dan pengujian pengobatan tradisional untuk memperkaya khasanah pelayanan kesehatan, “jelas Muktabar, Selasa (16/7/2019).

Muktabar melanjutkan, meski pelayanan kesehatan konvensional sudah berkembang dengan pesat (moderen), akan tetapi sampai saat ini pelayanan kesehatan tradisional masih tetap diminati oleh sebagian masyarakat dan diakui keberadaannya sebagai alternatif untuk mendapatkan kesehatan.

“Sekarang ini obat-obat tradisional ini sudah familiar dengan teknologi, sehingga dengan pertemuan ini kita advokasi terus dan kedepan agenda ini untuk dilaksanakan dan harus banyak melibatkan masyarakat secara parthnershif kita,” tegas Sekda.

Dalam kaitannya dengan obat tradisional, tidak melulu berkaitan dengan kesehatan saja tetapi juga memiliki nilai ekonomis yang bisa menjadi nilai tambah buat masyarakat. Dengan meramu, memproduksi, mengemas dan memasarkan, dijalankan dengan serius, ini bisa menjadi usaha dan menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Kepala Bidang pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ariani Sugiarti selaku panitia penyelenggara mengatakan salah satu dari pelayanan kesehatan yang dikembangkan oleh kemetrian kesehatan yaitu pelayanan kesehatan tradisional yaitu pengobatan atau perawatan yang mengacu kepada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai norma yang berlaku di masyarakat.

Ariani menambahkan, strategi pembangunan kesehatan tradisonal adalah mendorong masyrakat agar mampu memlihara kesehatanya secara prefentif serta mengatasi ganguan kesehatan ringan secara mandiri melalui asuhan mandiri tanaman obat keluarga (toga).

“Di Provinsi Banten ini sudah banyak turun temurun pengobatan herbal dari pengobatan tradisonal tetapi itu belum banyak yang sesuai dengan norma-norma dari Kementerian Kesehatan, jadi bukan hanya norma empiris saja yang kita perlukan tetapi harus ada berupa penelitian.Di Provinsi Banten sejak tahun 2012 sudah ada sentra penelitian tentang pengobatan tradisional,” ujar Ariani.

Peserta Advokasi kesehatan tradisional terdiri dari Organisasi perangkat Daerah Provinsi Banten,TP PKK Provinsi Banten ,dan dari RSUD Provinsi Banten. *[ AA ] 🙏🙏