Alkitab Pelangi Disambut Hangat Kaum LGBT Amerika

SINARBANTEN.COM, Serang – Saat ini pertumbuhan kaum LGBT di Amerika Serikat semakin cepat. Didukung lagi adanya kampanye kesetaraan gender dan Hak Asasi Manusia (HAM) oleh kaum LGBT.

Maraknya perkawinan sejenis, meskipun masih terus diperdebatkan belakangan ini, menyebabkan pembelian Alkitab bagi kaum LGBT meningkat. Alkitab tersebut dikenal dengan nama Alkitab Pelangi atau Alkitab Ratu James.

Bahkan Surat kabar the Daily Mail dalam tulisannya yang dimuat pada Senin (19/6/2023), menurut sang penyunting, Alkitab Ratu James yang merupakan penerbitan kembali dari Alkitab Raja James yang telah diterjemahkan dengan muatan untuk mencegah salah tafsir firman Tuhan.

Kata Homoseksualitas disebut pertama kali dalam Alkitab edisi revisi pada 1946. Sebelumnya kata itu tak pernah disebut dalam penerbitan Alkitab.

Alkitab seharga Rp 337 ribu itu diterbitkan, dicetak, dan disebarluaskan di Amerika. Situs penjualan buku itu di Internet mengatakan: “Anda tak bisa memilih jenis kelamin ketika dilahirkan, tapi Anda bisa memilih Yesus. Sekarang Anda bisa memilih Alkitab.”

Buku itu kini dijual di Internet, termasuk di situs amazon.com tapi tanpa pencantuman nama penerbit, penyunting, dan penerjemah. Di situs buku itu hanya tertulis pengarang buku adalah Tuhan dan kontributornya Yesus.

Kepala Studi dan penerjemah Alkitab di Kampus Wheaton, Douglas J. Moo mengatakan, penyuntingan Alkitab Ratu James itu tidak sepenuhnya akurat. “Hanya beberapa Alkitab terjemahan bahasa inggris menggunakan kata homoseksualitas atau homoseksual. Dalam sejarah terjemahan Alkitab terdahulu ke dalam bahasa Inggris, kata itu kini merujuk pada hubungan homoseksual.”

Seorang pendeta di Selandia Baru baru-baru ini dikecam lantaran memasang poster di dinding gereja di Kota Auckland menyebut Yesus adalah seorang gay.

Pendeta Glynn Cardy dari Gereja St Matthew di Auckland mengatakan homoseksualitas belum pernah disebut hingga tahun 1800-an. Jika kata itu muncul dalam Alkitab dan sejumlah dokumen lain maka itu salah terjemahan.

“Faktanya kita tidak tahu orientasi seksual Yesus. Beberapa ahli mencoba mengatakan Yesus itu gay,” ungkap Glynn, Senin (19/6/2023). *[ Redaksi SB ]🙏🙏