Januari 2021, Biofarma Akan Terima Vaksin Covid-19

SINARBANTEN.COM, Jakarta – Pada Jumat (6/11/2020) saat jumpa pers dengan wartawan, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, ada enam lembaga penelitian dan pergurun tinggi di Indonesia yang melakukan pengembangan vaksin Merah Putih dengan berbagai platform.

“Adapun ke enam lembaga tersebut untuk mempercepat proses pengembangan vaksin merah putih yaitu Lembaga Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Gajah Mada (UGM),” jelas Bambang,” Jumat (6/11/2020).

Pengembangan oleh Eijkman, urai Bambang, menggunakan platform protein rekombinan. Begitu juga LIPI, mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan fusi. Sedangkan UI dengan platform DNA, RNA, dan virus like particles. Sementara itu, ITB dengan platform adenorus, UNAIR dengan platform adenorus, dan UGM dengan platform protein rekombinan.

“Harapan kita, vaksin ini bisa segera dikembangkan dalam waktu yang relatif cepat. Saat ini, dari enam lembaga tersebut diperkirakan yang bisa paling cepat. Awal tahun depan sudah bisa diserahkan bibit vaksin ke Biofarma adalah dari Eijkman dan UI, karena tahapannya sudah mendekati atau sudah masuk ke tahap uji hewan,” terang Bambang.

“Untuk mempercepat penyembuhan pasien Covid 19, dua pertiga penduduk harus di vaksin. Kurang lebih 180 juta orang. Jadi kebutuhan vaksin sangat besar,” tambahnya.

Apabila satu orang butuh dua kali vaksin, lanjut Bambang, maka dibutuhkan minimal 360 juta vaksin. Kemudian kalau semua orang divaksin, maka 270 dikali dua, alias 540 juta. Jadi harus ada kapasitas antara 360 sampai 540 juta yang barangkali tidak bisa dipenuhi oleh Biofarma sendirian. Karena itu, kita sudah menggandeng dan bernegosiasi dengan perusahaan swasta yang bersedia inves untuk pengembangan vaksin Covid 19 ini.

Kemudian Bambang menjelaskan kerjasama dengan pihak luar negeri masih dibutuhkan karena meskipun dapat beli vaksin dalam keadaan utuh, tetapi lebih mengutamakan kerjasama atau transfer teknologi.

“Kita sudah membangun kerjasama tidak hanya dengan China. Melainkan juga dengan Korea, Turki, dan lain-lain. Intinya kita mendorong kerjasama selama ini, tentunya menguntungkan bagi Indonesia,” tandasnya. *[ Redaksi SB ] 🙏🙏