Injil Berbahasa Minangkabau Alami Penolakan Di Sumbar

SINARBANTEN.COM, Jakarta – Kurang lebih sebulan setelah dimuatnya aplikasi Injil berbahasa Minangkabau di Play Store, sontak seluruh masyarakat Minangkabau bereaksi menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap adanya aplikasi tersebut.

Menanggapi keresahan masyarakat tersebut, politisi Partai Gerindra asal Sumatera Barat (Sumbar), Andre Rosiade memgimbau masyarakat Minang untuk tetap tenang dan tidak usah terprovokasi.

“Jangan terprovokasi. Serahkan semuanya kepada Pemprov dan biarkan Gubernur Sumbar untuk menyelesaikan hal ini dengan mengeluarkan pernyataan resmi dan mengambil tindakan sesuai aspirasi masyarakat,” kata Andre kepada awak media, Selasa (2/6/2020).

Di tempat yang berbeda, Politisi dari Partai Amanat Nasional asal Sumatera Barat, Guspardi Gaus mengatakan, orang asli Minang merupakan pemeluk agama Islam yang taat, sehingga tidak mungkin membuat aplikasi kitab suci agama lain.

“Saya menduga adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja merusak keharmonisan masyarakat minang. Kalau Sumarera Barat itu geografis, kalau minang itu adat istiadat dia turun temurun, ada upaya barangkali suasana gaduh, tidak harmomis, seolah-olah orang Minang ada yang non-Islam, tidak. Kalau keluar dari Islam dia bukan Minang, kalau dia keluar dari Islam enggak masalah itu hak dia, tapi jangan dibawa-bawa minang,” ungkapnya geram.

Lebih jauh Guspardi Gaus mengungkapkan kekecewaannya terhadap oknum yang sengaja membuat aplikasi injil dengan bahasa Minang.

“Seharusnya jika ingin lebih komunikatif dapat menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami semua masyarakat. Kenapa harus dibuat bahasa Minang? Apa Tujuannya? Nah ini ada apa?” tegasnya.

Sebagai informasi, penolakan terhadap Injil Berbahasa daerah bukan hanya terjadi di Sumatera Barat, tetapi juga di Aceh. Masyarakat Aceh juga menolak kehadiran Injil Berbahasa Aceh dan berencana melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri. *[ TI ] 🙏🙏