Masjid Kampus Memiliki Peran Strategis di Tengah Kebhinekatungalikaan Bangsa

SINARBANTEN.COM, Serang – Saat menjadi pembicara kunci dalam Focus Group Discussion (FGD) AMKI dengan tema” Peran Strategis Masjid Kampus di Tengah Kebhinekatungalikaan Bangsa” di Auditorium Untirta Rektor Untirta Dr. H. Fatah Sulaiman, MT mengharapkan agar masjid kampus yang tergabung dalam Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) dapat menjadi pelopor kerukunan, baik di internal umat Islam maupun antar umat beragama.

“Khusus Masjid Kampus Untirta, saya berharap bisa menjadi pelopor kerukunan. Selain memiliki peran strategis dalam menyiapkan kader pemimpin bangsa yang berkarakter jawara,” kata Fatah, Selasa (2/10/2019).

Selanjutnya Fatah menegaskan, pemimpin bangsa yang berkarakter jawara yaitu emimpin yang bewibawa dalam menggerakkan seluruh potensi bangsa dalam memajukan kesejahteraan rakyat seperti teladan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada saat yang sama, kata dia, mampu mencerdaskan bangsa seperti Syekh Nawawi Al Bantani.

Sementara itu, Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Untirta Dr. Jakaria menilai bahwa nilai strategis masjid kampus dalam pembangunan karakter bangsa khususnya pemuda. Ia mengatakan masjid kampus membantu Perguruan Tinggi menyiapkan SDM Unggul bukan hanya dalam bidang akademik saja, tapi juga akhlak mulia.

“Di situlah peran Masjid kampus dalam membina manusia Indonesia seutuhnya sekaligus perdaban bangsa yang unggul,” katanya.

Sedangkan Wakil Ketua PP AMKI Dr. Ir. Syarif Hidayat menjelaskan masjid sebagai rumah ruhani harus terbuka bagi seluruh warga kampus. Ia mengatakan masjid kampus juga harus terbuka bagi masyarakat luas terutama warga sekitar.

“Masjid kampus harus inklusif dan tidak boleh partisan yang terikat oleh politik aliran atau paham keagamaan tertentu,” ucapnya.

Ia mengatakan inklusivitas Masjid Kampus terlihat dari program pelayanan masjid, seperti penyediaan air minum gratis, buka puasa bersama setiap hari Senin dan Kamis, dan latihan kepemimpinan bagi mahasiswa.

Masjid kampus juga melaksanakan program pemberdayaan kampung bangkit. Mulai gerakan melek huruf alquran beasiswa bagi keluarga dhu’afa dan pemberdayaan ekonomi, tanpa mempersoalkan perbedaan kepercayaan.

Dosen Untirta yang juga penulis disertasi “Masjid Kampus” Dr. Mazumi menyoroti peran strategis masjid kampus dari segi jemaahnya, yakni kaum terpelajar. Berbeda dengan masjid Agung atau Masjid Jami’, kata dia, jemaah masjid kampus adalah dosen dan mahasiswa dari berbagai keahlian/disiplin ilmu.

“Modal sosial ini harus digunakan kampus untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui program pengabdian masyarakat,” katanya.

Dalam FGD juga dipersoalkan tudingan masjid kampus sebagai tempat tumbuhnya pemahaman keagamaan radikal dan aktivis masjid kampus dianggap kurang nasionalis.

Menyikapi tudahan sebagian orang itu, peserta FGD sepakat tentang pentingnya kajian Islam yang inklusif. Kajian itu menjadi dasar gerakan keagamaan kebangsaan dan kenegaraan. Gerakan keagamaan meliputi peribadatan dan dakwah. Dakwah memperkuat identitas Islam dalam tamansari kemajemukan Indonesia.

Gerakan kebangsaan meliputi program pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial yang bersumber dari dana wakaf zakat infak dan sedekah.

Sedangkan gerakan kenegaraan dilakukan melalui pengkajian hukum dan konstitusi. Masjid membantu pemerintah mengawal legislasi yang sesuai dengan rasa keadilan rakyat berdasarkan Ketuhanan YME.

Ketua Takmir Masjid Kampus Syekh Nawawi Al Bantani (SNAB) Untirta Dr. Fadlullah, S.Ag., M.Si melaporkan bahwa peserta FGD dihadiri oleh pengurus AMKI Pusat yang berkedudukan di Masjid Salman ITB. dan perwakilan AMKI Wilayah se-Banten DKI Jakarta dan Jawa Barat. Takmir yang hadir meliputi unsur dosen dan mahasiswa. *[ AhS ] 🙏🙏