Peneliti Muda Dari Technische Universitat Dresden, Jerman Melakukan Penelitian di Serpong

SINARBANTEN.COM, Tangerang – 25 peneliti muda yang berasal dari Technische Universitat Dresden, Jerman, menyelenggarakan Summer School dengan melakukan penelitian kota terjepit Lengkongulama di wilayah Serpong dengan fasilitator utama Prof. Bernhard Mueller dan Dr. Paulina Schiappacasse dari Technische Universitat Dresden, Jerman.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Technische Universitat Dresden, Jerman dengan Jaya Center for Urban Studies (CUS) sebagai pusat unggulan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Tangerang Selatan.

Koordinator Program Humboldt Summer School 2019 Resdiansyah di Tangerang mengatakan, terselenggarannya Humboldt Summer School 2019 ini berkat adanya dukungan Sinarmas Land sebagai sponsor utama yang juga merupakan wakil dari pelaku industri. Kegiatan ini sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu dan hasilnya kini sedang menjadi kajian bersama.

“Kegiatan summer school kali ini memberi warna yang unik karena terjadi sinergi serta kolaborasi antara industri dan peneliti dari lembaga pendidikan tinggi seperti UPJ dalam hal pengembangan kerja sama internasional untuk kajian Urban Studies yang dipromosikan oleh UPJ sebagai hub dari konsorsium internasional untuk kajian-kajian di bidang Urban Studies,” jelasnya, Senin (23/9/2019).

Humboldt Summer School saat ini, ungkap Resdiansyah, sangat berbeda dibandingkan yang pernah diadakan untuk para peneliti di bidang Urban Studies.

“Kota terjepit Lengkongulama memiliki karakteristik yang khas sebagai historical site bagi sejarah berdirinya Kabupaten Tanggerang serta rumah dari pendiri Tanggerang, Raden Arya Wangsakara. Lengkongulama sangat dikenal sebagai Kampung Kaligrafi yang hasil kaligrafinya menghiasi masjid-masjid besar di Indonesia termasuk Masjid Istana, “terang Resdiansyah.

Selanjutnya Resdiansyah menambahkan, keunikan – keunikan ini yang menjadikan Lengkongulama sebagai lokasi site visit yang sangat menarik untuk dilakukan penelitian lebih mendalam dan bisa menjadi referensi yang sangat bagus terutama karena kondisi seperti ini tidak ditemukan di Jerman atau di negara-negara di Eropa.

Perlu diketahui, gejala kota terjepit atau yang dikenal dengan istilah Constricted Cities saat ini banyak muncul dan menjadi problem di negara-negara berkembang terutama di wilayah Asia seperti di Vietnam, China, Filipina termasuk juga di Indonesia sebagai akibat menjamurnya pembangunan kota – kota satelit. *[ HY ] 🙏🙏