Akibat Krisis Air Bersih, Warga Lebak Terpaksa MCK di Sungai

SINARBANTEN.COM, Lebak – Akibat kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mengakibatkan enam kecamatan di Lebak sejak satu bulan terakhir mengalami krisis air bersih.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi di Lebak mengungkapkan bahwa krisis air bersih itu karena air bawah tanah, seperti sumur timba, sumur bor, jetpump listrik dan sumber mata air mengering sehingga berdampak terhadap enam kecamatan antara lain Kecamatan Sajira, Maja, Leuwidamar, Bojongmanik, Wanassalam dan Warunggunung.

“Mereka warga yang krisis air bersih tersebar di 15 desa dari enam kecamatan tersebut. Saat ini, masyarakat di sana untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK) terpaksa berjalan kaki menuju lokasi daerah aliran sungai maupun kolam, “kata Kaprawi, Kamis (15/8/2019).

Selain itu, lanjut Kaprawi, masyarakat membuat lubang-lubang di tepi sungai untuk menampung air. Bahkan, di antaranya warga sejak dinihari mendatangi sumber mata air yang ada di perbukitan dengan mengantre.

“Krisis air bersih dipastikan meluas karena hingga kini belum ada tanda-tanda curah hujan. BPBD hingga kini belum menetapkan status tanggap darurat kekeringan, meski dialami krisis air bersih di enam kecamatan, “jelasnya.

Namun tidak tertutup kemungkinan satu pekan ke depan tidak ada hujan, dipastikan ditetapkan status tanggap darurat kekeringan.

“Kami terus mengoptimalkan pendistribusian pasokan air bersih ke desa-desa yang dilanda kesulitan air bersih akibat kekeringan itu,” ujarnya.

Sejumlah warga Desa Lebak Pariang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, mengaku bahwa mereka merasa lega setelah mendapat bantuan air bersih sebanyak dua tangki dari BPBD setempat.

Pasokan air bersih itu dipastikan mencukupi untuk kebutuhan tiga hari ke depan. “Kami berterima kasih kepada BPBD setempat, karena setiap pekan dipasok air bersih,” kata Barni, warga setempat. *[ YM ] 🙏🙏