Tradisi Minum Kopi Robusta di Samosir, Haruskah Dipertahankan?

SINARBANTEN.COM, Pangaribuan – Kawasan Danau Toba merupakan daerah penghasil kopi, termasuk Kabupaten Samosir. Tak heran, ada beberapa produsen kopi bubuk dan biji di Samosir. Contoh, Handypan Simbolon.

Yang menarik, tak seperti produsen kebanyakan yang menggunakan kopi Arabika, pemilik CV Kopi Samosir ini justru memakai jenis Robusta sebagai bahan baku. “Dulu, kan, orang minumnya kopi Robusta karena Arabika baru masuk ke Samosir tahun 1970-an,” kata Simbolon, Senin (12/8/2019).

Dengan tetap memproduksi kopi Robusta lewat merek Samosir, dia ingin mempertahankan, tradisi minum kopi Robusta di Samosir yang sudah ada sejak dulu. Apalagi, bahan baku kopi berasal dari perkebunan kopi rakyat di pulau yang ada di tengah Danau Toba ini.

Simbolon mengklaim, kopinya berasal dari biji pilihan dari pohon yang proses penanamannya secara organik. Proses pengolahannya pun secara tradisional sehingga menghasilkan bubuk kopi aroma herbal.

Dalam pemasaran, Simbolon punya trik untuk menarik pasar. Lantaran kopi buatannya banyak konsumen pesan untuk pesta Batak, dia menyematkan foto tugu-tugu marga pada kemasan kopi.

Cara ini terbukti ampuh mencuri perhatian empunya pesta. “Mereka jadi lirik kopi saya, tapi mereka malah tidak mau buka kopinya karena ada tugu oppungnya,” ujar Simbolon.

Tak hanya itu, di kemasan kopi lain, ia menampilkan peta Pulau Samosir lengkap dengan nama-nama destinasi wisatanya. “Jadi, saya ikut membantu mempromosikan pariwisata Samosir,” imbuhnya. *[ YM ] 🙏🙏