EKS KABAIS: Enzo Allie Tidak Cocok Jadi Taruna Akmil

SINARBANTEN.COM, Jakarta – Viralnya nama Enzo Zenz Allie (18) yang telah lulus dari Akmil meskipun ada dugaan ia terpengaruh ekstrim kanan (HTI) akhir membuat Analis Intelijen dan Keamanan Ridwan Habib dan eks Kepala Bais Laksda Purn Soleman Ponto angkat bicara.

Menurut Analis Intelijen dan Keamanan Ridwan Habib baik Enzo maupun ibunya hanya terpapar populisme Islam, yang tengah menguat pasca Pilkada DKI 2016. Akan tetapi, dari medsos sangat terlihat Enzo serta orang tuanya “terpengaruh” dengan perkembangan ekstrem kanan saat ini.

Selama ini, setiap orang yang akan menjadi anggota TNI selalu melalui kegiatan Penelitian Khusus (Litsus). Salah satu kriteria dalam Litsus yang paling mematikan adalah “Keterpengaruhan”, ke arah ekstrem kanan, ekstrem kiri dan ekstrem lainnya.

Untuk melihat keterpengaruhan itu tidak perlu sulit-sulit. Apa yang dilakukan oleh Enzo dan ibunya, itu adalah bukti “pengaruh perkembangan keadaan saat ini” terhadap mereka. Bahkan itu diakui oleh Ridwan Habib.

Walaupun menurut Ridwan Habib mereka “hanya terpapar” tapi itu adalah bukti bahwa mereka ‘telah terpengaruh”. Seberapa besar “keterpengaruhannya”? Tidak ada ukuran “keterpegaruhan” kecil atau besar sama saja. Namanya tetap “terpengaruh”.

“Saya sependapat dengan Pak Ridwan, Enzo bukan penyusup, tapi bagi saya Enzo adalah orang yang telah berada di bawah pengaruh,” ujar mantan Kepala Bais Laksda Purn Soleman Ponto, Minggu (11/8/2019).

Sebagai pembanding, kata dia, seseorang bisa tidak lulus tes masuk hanya karena adik ibu atau adik bapak terpengaruh ekstrem kiri atau komunis. Apalagi kalau yang dinilai terpengaruh adalah orang tua, maka sudah pasti orang yang ikut tes itu tidak akan lulus.

Hal ini seharusnya berlaku bagi Enzo, apapun alasannya dia dan ibunya “telah terpengaruh” dan hal ini haram hukumnya bagi TNI. “Saya yakin sekali, ada calon lainnya tidak lolos karena “keterpengaruhannya” semua calon taruna yang akan dididik di kawah Candradimuka Magelang harus bebas dari “pengaruh” ekstrem kanan, kiri dan ekstrem lainnya. Mereka harus benar-benar bersih, sehingga mudah untuk membentuknya dan hasilnya akan baik,” kata dia.

Ibaratnya makanan, kalau bahan yang akan dimasak itu sudah “cenderung asin” maka akan tidak enak kalau akan dijadikan manis. Karena itu bahannya harus betul betul tawar, tidak ada pengaruh dari asin atau dari manis

“Lalu, apakah hanya Enzo yang ngajinya hebat, agamanya bagus? Saya yakin masih ada juga calon lain yang ngajinya juga tidak kalah dengan Enzo,” ucapnya.

Lalu apakah hanya karena Enzo menguasai empat bahasa, lalu “keterpengaruhannya” diabaikan begitu saja? Harap diingat bahwa TNI dalam melaksanakan tugasnya “tidak memerlukan orang-orang yang dapat berbicara dengan empat bahasa”, karena TNI dalam melaksanakan tugasnya hanya akan “bicara dengan peluru”.

Tes masuk TNI janganlah dijadikan ajang coba-coba. Standar prosedur yang telah ada hendaknya dijalankan dengan sebaik-baiknya. Proses tes masuk TNI telah disusun sedemikian rupa dengan menganut asas “Zero Toleran”. Tidak ada toleransi sama sekali bagi hal-hal yang dapat berkembang ke arah ekstrim.

“Dengan demikian, menurut saya Enzo tidak cocok untuk jadi Taruna Akmil karena telah “terpengaruh” perkembangan ekstrim kanan yang sedang berkembang saat ini,” tutupnya. *[ AhS ] 🙏🙏