SINARBANTEN.COM, Iran – Sabtu (28/2/2026), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang menghantam kompleks kediamannya.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Khamenei dan sejumlah pejabat Iran “tidak bisa lolos dari intelijen AS dan sistem pelacakan paling canggih.”
Dikutip dari BBC International, otoritas Iran juga akhirnya membenarkan klaim tersebut. Presenter TV media pemerintah menitihkan air mata saat mengabarkan berita tersebut. Iran diselimuti duka mendalam dan akan menerapkan 40 hari berduka.
Menurut Vali Nasr, pakar Iran dan penulis Iran’s Grand Strategy, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (1/3/2026), bagi Khamenei, revolusi, republik Islam, dan nasionalisme Iran adalah satu kesatuan yang harus dilindungi.
Penindakan brutal terhadap protes pemilu 2009 dan gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan menegaskan gaya kepemimpinan Khamenei yang melihat ketidakstabilan domestik sebagai ancaman keamanan nasional.
“Rakyat Iran membayar harga yang terlalu mahal atas penegasan kemerdekaan nasional versi ini,” kata Nasr. “Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan sebagian besar masyarakat.”
Ketegangan memuncak setelah perang Israel-Hamas dan serangkaian serangan Israel terhadap target Iran dan sekutunya. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka mengancam akan membunuh Khamenei.
Meninggalnya Khamenei berpotensi menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran sejak 1979. *[ Redaksi SB ] 🙏🙏
























