Bank Ayandeh Iran Akhirnya Bangkrut

SINARBANTEN.COM, Iran — Mengutip The Wall Street Journal, akhir tahun lalu, Bank Ayandeh yang terbebani kerugian hampir US$ 5 miliar (Rp83,5 triliun) akibat tumpukan pinjaman macet, akhirnya resmi diputuskan bangkrut.

Pemerintah Iran bergerak cepat melebur dan menggabungkan bank bangkrut tersebut menjadi bank negara dan mencetak uang dalam jumlah besar untuk mencoba mengakali kerugian yang dialami institusi keuangan bermasalah itu. Hal itu memang menutupi masalah, tetapi sama sekali tidak menyelesaikannya.

Sebaliknya, kegagalan tersebut menjadi simbol sekaligus pemicu keruntuhan ekonomi yang pada akhirnya memicu protes yang kini menjadi ancaman paling signifikan bagi rezim sejak berdirinya Republik Islam pada setengah abad yang lalu.

Runtuhnya bank tersebut memperjelas bahwa sistem keuangan Iran, yang tertekan akibat sanksi bertahun-tahun, pinjaman macet, dan ketergantungan pada uang cetak yang mengerek inflasi, telah menjadikan ekonomi Iran semakin tidak mampu membayar utang dan kekurangan likuiditas. Lima bank lain diperkirakan juga mengalami kondisi yang sama parahnya.

Adapun Bank Ayandeh didirikan pada 2013 oleh Ali Ansari, seorang pengusaha Iran yang menggabungkan dua bank milik negara dengan bank swasta lain yang ia dirikan sebelumnya untuk membentuk bank baru. Ia berasal dari salah satu keluarga terkaya di Iran dan memiliki rumah mewah bernilai jutaan dolar di London utara.

Secara politik, ia dipandang dekat dengan mantan Presiden konservatif Mahmoud Ahmadinejad.

Inggris menjatuhkan sanksi kepada Ansari tahun lalu, hanya beberapa hari setelah runtuhnya Ayandeh, menyebutnya sebagai “bankir dan pengusaha Iran yang korup” yang membantu membiayai organisasi paramiliter dan bisnis elit Iran yang luas, Korps Garda Revolusi Islam.

Dalam sebuah pernyataan pada bulan Oktober, Ansari menyalahkan kegagalan bank tersebut pada “keputusan dan kebijakan yang dibuat di luar kendali bank.”

Ayandeh menawarkan suku bunga tertinggi di antara bank-bank Iran lainnya, menarik jutaan deposan dan banyak meminjam dari bank sentral. Para ekonom menyebut bank sentral mencetak uang untuk menjaga agar bank tersebut tetap likuid dan bertahan.

Seperti bank-bank Iran bermasalah lainnya, Ayandeh memiliki sejumlah besar pinjaman bermasalah, salah satu dari berbagai faktor yang akhirnya menyebabkan kegagalannya.*[ Redaksi SB ] 🙏🙏