Perlukah Pemerintah Meniadakan Pendidikan Agama Di Sekolah?

SINARBANTEN.COM, Jakarta – Dalam 10 tahun terakhir ini, kita sering melihat agama sering menjadi alat politik. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Salah satunya karena agama dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sehingga siswa dibedakan ketika menerima mata pelajaran (mapel) agama. Akhirnya mereka merasa kalau mereka itu berbeda.

Menanggapi maraknya orang menggunakan isu agama untuk kepentingan politik dan untuk memecah belah bangsa, praktisi Pendidikan Setyono Djuandi Darmono menyarankan agar pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru agama di luar sekolah.

“Dengan adanya kurikulum agama, siswa merasa dibeda-bedakan, terutama dari cara berpakaian yang kini seperti ‘dipaksakan’. Tanpa disadari, sekolah sudah menciptakan perpecahan di kalangan siswa. Sebagai gantinya, mapel budi pekerti yang diperkuat. Dengan demikian sikap toleransi siswa lebih menonjol dan rasa kebinekaan makin kuat,” ungkap Darmono beberapa hari yang lalu di Jakarta.

“Siswa harus diajarkan kalau mereka itu hidup di tengah keanekaragaman. Namun, keanekaragaman dan nilai-nilai budaya itu yang menyatukan bangsa ini, bukan agama,” tegasnya.

Bila agama yang dijadikan identitas, lanjut Darmono, justru akan memicu radikalisme. Ketika bangsa Indonesia hancur karena radikalisme, belum tentu negara tetangga yang seagama bisa menerima.

“Kita harus jaga bangsa ini dari politik identitas (agama). Kalau negara ini hancur, yang rugi kita sendiri. Memangnya kalau kita pindah ke negara lain yang seagama, kita bisa diterima, kan tidak. Makanya rawatlah negara ini dengan nilai-nilai budaya, bukan agama,” bebernya.

Akhirnya Darmono menyarankan kepada Presiden Joko Widodo untuk meniadakan pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama harus jadi tanggung jawab orang tua serta guru agama masing-masing (bukan guru di sekolah). Pendidikannya cukup diberikan di luar sekolah, misalnya masjid, gereja, pura, vihara, dan lainnya.

“Kalau mau merawat persatuan dan kesatuan bangsa, itu harus dilakukan. Cuma saya melihat presiden tersandera oleh berbagai macam kepentingan politik. Jika ini tidak diubah, sampai kapan pun agama akan dijadikan alat politik indentitas,” tandasnya. *[ SM ] 🙏🙏