BMKG: Satuan Mengukur Gempa Bumi Adalah Magnitudo

SINARBANTEN.COM, Jakarta -Setelah gempa berkekuatan Magnitudo 5,1 terjadi di Buleleng, Bali yang tidak berpotensi tsunami, banyak netizen bertanya tentang satuan yang digunakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), apakah menggunakan satuan Skala Richter (SR) atau satuan Magnitudo (M).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami (KBMG) BMKG, Daryono mengatakan bahwa sebenarnya BMKG sudah 11 tahun tidak menggunakan lagi satuan Skala Richter (SR) dan menggantinya dengan Magnitudo (M). Tapi, masih banyak pihak masih salah dalam menggunakan satuan tersebut

“BMKG sudah tidak lagi memakai satuan SR untuk menghitung kekuatan gempa sejak 2008. Ada dua cara atau alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar gempa bumi yang terjadi, yaitu magnitudo dan intensitas. Magnitudo mempresentasikan kekuatan gempa dari sumbernya akibat displacement atau perpindahan yang terjadi pada suatu luasan, “jelas Daryono, Jumat (15/11/2019).

Jadi semakin luas dan semakin besar displacement-nya, paparnya, maka semakin besar pula magnitudonya. Intensitas mempresentasikan dampak gempa yang berupa derajat yang dirasakan oleh manusia atau derajat kerusakan akibat gempa bumi.

Perlu diketahui, Skala Richter (SR) sendiri adalah satuan yang digunakan sebagai apresiasi terhadap penemu tipe magnitudo lokal (ML), yaitu Charles Richter.

ML digunakan untuk mengukur kekuatan gempa-gempa yang terjadi di California dengan instrumen tertentu, yaitu Wood Anderson Seismograph. Namun alat ini hanya dapat digunakan untuk gempa jarak dekat dengan sensor gempa kurang dari 100 km.

“Kemudian ML digunakan untuk daerah lainnya dengan instrumen yang berbeda seperti sensor broadband dengan mengadopsi fungsi instrumen respons dari sensor Wood Anderson. Sehingga kita bisa mengukur magnitudo ML untuk semua lokasi dan satuannya adalah SR,” tambahnya.

Berjalannya waktu, tipe magnitudo gempa yang baru ditemukan, seperti mb, mB, Mw, Ms, dan lain sebagainya. Semuanya adalah tipe gempa yang berbeda, yang bisa dihitung dari tekanan hingga gelombang.

“Sehingga tipe magnitudo selain ML sudah tidak tepat lagi menggunakan satuan SR. Namun saat ini sistem processing gempa bumi sudah menyediakan berbagai tipe magnitudo tersebut,” jelas Daryono.

Karena itu, dalam penyebutan kekuatan gempa bumi, sekarang BMKG hanya menggunakan satuan M. Penulisannya adalah M 7,1 atau M= 7,1 untuk menggambarkan gempa berkekuatan magnitudo 7,1.

“Penggunaan tanda koma (,) sendiri dikhususkan untuk standar penulisan di Indonesia, sedangkan titik (.) untuk standard luar negeri,” pungkasnya. *[ HY ] ??