Kembangkan Kebun Kopi 30 Hektare, Pemkab Lebak Siap Jadi lumbung kopi

SINARBANTEN.COM, Lebak – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak mengatakan, Pemkab Lebak menargetkan menjadi lumbung kopi karena didukung lahan yang luas.

“Pemda tahun 2019 mengembangkan perkebunan kopi Arabica seluas 30 hektare di Kecamatan Muncang dan Sobang. Saat ini, permintaan pasar komoditas kopi Arabica cukup terbuka dan sangat menguntungkan petani, “jelasnya, Kamis (22/8/2019).

Pengembangan perkebunan kopi untuk mendukung program Lebak Sejahtera yang dicanangkan Bupati Iti Octavia. Dimana program tersebut dapat menyerap lapangan pekerjaan masyarakat.

Namun, selama ini, pengelolaan perkebunan kopi di masyarakat masih dikelola secara konvensional atau tradisional. Mereka tanam perkebunan kopi, namun ditinggalkan begitu saja tanpa melakukan perawatan.

Karena itu, pihaknya bekerja keras memberikan penyuluhan-penyuluhan untuk mendampingi petani agar meningkatkan sumber daya manusia (SDM).

Apabila, mereka petani itu memiliki SDM yang baik maka dapat meningkatkan produksi dan produktivitas.

“Jika produksi dan produktivitas meningkat dipastikan menguntungkan petani. Harga kopi saat ini cukup baik berkisar antara Rp20-22 ribu/Kg,” katanya.

Menurut dia, saat ini, produktivitas kopi di Kabupaten Lebak cukup rendah yakni 944,88 Kg/hektare, karena kurang mendapat perawatan.

Pihaknya menargetkan produktivitas kopi sekitar 1,7 ton/hektare karena memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran.

Keunggulan tanaman kopi arabika (coffea arabica) sangat diminati masyarakat juga jauh lebih baik dibandingkan kopi robusta.

“Kami mengembangkan percontohan perkebunan kopi seluas 30 hektare dengan sistem klaster atau kawasan,” katanya.

Milan, seorang pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) kerajinan kopi warga Rangkasbitung mengatakan permintaan pasar kopi cenderung meningkat dengan mudahnya pemasaran melalui jaringan online.

Produk kopi yang diberi merk “Lebak” belum genap setahun sudah menyerap tenaga kerja sebanyak enam orang.

Saat ini pesanan kopi “Lebak” sudah datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor dan Bandung. “Kami menampung kopi Arabica itu dari petani lokal,” ujarnya.

Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Siti Samsiah mengatakan, saat ini jumlah perajin kopi cukup banyak karena bahan baku di Lebak melimpah.

Perajin kopi tentu dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat juga penyerapan lapangan pekerjaan.

Selain merek “Lebak”, kopi lokal di Banten lainnya di antaranya merek “Badui” dan “Kupu-kupu”. “Kami berharap berkembangnya usaha kopi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Siti. *[ AhS ] 🙏🙏